Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Prosesi Upacara Adat Batu Tumotowa Tompaso Sulawesi Utara

Konten [Tampil]
Batu “Tumotowa” adalah batu penjuru halaman hingga juga disebut “Watu Tundek U Lesar”, ketika halaman luas berubah menjadi tempat pemukiman maka nama batu tegak “Tumotowa” yang sama berubah istilah menjadi “Watu Tundek Un Wanua” artinya batu penjuru negeri tempat pusat Tarian Maengket Katua’an (Maengket Upacara Adat). Seperti Kisah Dewa-Dewi pada Muntu-untu, Lingkan Wene, Tendewene, Pokalan Wene, Parengkuan, Tumideng, Sambalean, Mioyoh. Dari kedudukan Batu Tumotowa di Tentukanlah Arah Mata Angin Sebuah Wanua (Negeri) tempat batu Tumotowa disebut Kauneran (Uner=Tengah), Talikuran (Barat), Sendangan (Timur), Amian (Utara), Timu (Selatan).


batu yang berdiri

Batu Tumotowa Tompaso yang terletak ditengah Pacuan Kuda Tompaso disebu “Watu Rua-Amo” (dua wajah) oleh penulis almarhum H.M Taulu. Wajah Arca wanita dewi Padi Tende wene dan suaminya dewa Mioyoh (No’oyoh = Mio-Iyoh) yang juga menjadi nama sungai kecil Air Panas yang Mengalir dari sekitar lokasi Batu Pinawetengan.


Berusia satu abad dengan Batu Pinawetengan yakni abad ke-7 (tujuh) menjadi pusat upacara adat kesuburan Tanaman padi, Umbi-umbian, Tanaman merambat kacang-kacangan dan makanan pokok lainya seperti buah-buahan pisang, minuman Dewata Saguer menghormati Dewa Saguer Pegunungan Makaliwey Dewa Saguer Tepi pantai kiri waerong.


Thema Upacara adat di Batu Tumotowa Tompaso berbentuk upacara kesuburan Tanaman “Mengalei Tumou-tou” yang jaman Tempo dulu hanya berpusat pada tanaman Padi yang menghasilkan beras seperti pada syair Maengket “Owey Kamberu”. Pada Upacara adat tgl 14 Juli 2008 bertitik berat pada Tanaman Kelapa yang kesuburannya merosot terkena penyakit busuk pucuk daun muda. Upacara adat di tunjang dengan penampilan kabasaran dewasa, dan Lomba Rekor Muri Masakan kacang Merah atau “Brenebon”.

Pelaksanaan Upacara Adat

Tim Upacara Adat memasuki Lokasi didahului, Tambor Masal Berbanjar Dua Baris. Kabasaran Berkuda, Kabasaran Wanita kemudian Kabasaran anak-anak, ambil posisi huruf “U”

Kemudian Tim Upacara Adat : Tonaas Tumompaso : Bpk. Bert Supit
Walian Tumompaso : Ibu Ritje Sarundajang
Tonaas wangko Tontemboan : Pdt. Servius Lumingkewas
Diikuti Tiga Tonaas Mengalei : Menuju depan Pintu Batu Tumotowa.


Kemudian, Tim Maengket Katua’an (Maengket Upacara Adat antara lain :

Maengket desa Pinawetengan (Tontemboan)
Maengket Desa Rurukan (Tombulu)
Maengket Mahambak Bantik
Menggambil Tempat disebelah Timur Arena Menghadap Podium Penonton.


Weresin Lesar


Kabasaran berkuda, diikuti Kabasaran Wanita kemudian Kabasaran anak-anak menari Cakalele berbaris Sau-satu Mengitari Batu Tumotowa satu kali mulai dari arah Pintu masuk Batu Tumotowa, Lalu kembali ke Posisi semula.

Upacara Adat Batu Tumotowa

Bibit kelapa dan Padi diletakkan dimeja Palangka Tonaas Lole Turangan mengucapkan kata-kata Mengalei, kemudian Tonaas Jessy Wenas “Mengalei” agar Tanaman kelapa jangan punah dari serangan Hama Busuk Pucuk. Tonaas Arie Rantumbanua membagi-bagikan “kower” berisi saguer kepada para Tonaas Wangko untuk minum bersama “Mengapetor” sebagai penutup Upacara Adat.


Tambor masal berbaris satu-satu memukul tambor berkeliling Batu Tumotowa Tiga Kali, lalu kembali ke-posisi semula.


10.15 Maengket Upacara adat menari didepan Batu Tumotowa dimulai oleh


Maengket Pinawetengan berjalan maju menghadap Tonaas Wangko,


Memberi Hormat menerima selandang lalu mulai menari.


Setelah selesai kembali ke-posisi semula.


- Kapel Maengket desa Rurukan masuk Arena, memberi hormat pada


Para Tonaas Wangko lalu mulai menari sampai selesai, kembali ke-


Posisi semula.


- Kapel Mahambak Bantik masuk aena memberi hormat pada para


Tonaas wangko lalu mulai menari sampai selesai lalu kembali ke


Posisi semula.


Atraksi Kabasaran Wanita kemudian Kabasaran anak-anak, lalu


Gabungan Kabasaran Wanita menari Cakalele dengan kabasaran


Anak-anak diiringi pukulan Tambor Masal.


Owey Kamberu (Penutup Upacara Adat)


Kapel Maengket Pinawetengan bersama para Tonaas menghamburkan


Padi disekitar Batu Tumotowa Simbol Kesuburan Pangan, Kemudian


Memimpin Tarian “Owey Kamberu” (satu babak) setelah selesai mengambil posisi keluar dari mana Rombongan masuk.


Maengket Pinawetengan meninggalkan arena Batu Tumotowa diapit


Rombongan Tambor masal membunyikan Tambor.


Diikuti para Tonaas Wangko dan Tonaas-tonaas, dibelakangnya Maengket Rurukan dan Mahambak Bantik. Kemudian Kabasaran anak-anak dan kabasaran Wanita, Rombongan terakhir Kabasaran Berkuda.

Posting Komentar untuk "Prosesi Upacara Adat Batu Tumotowa Tompaso Sulawesi Utara"