Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

9 Fakta Menarik Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam

Konten [Tampil]

Provinsi Aceh merupakan wilayah yang identik dengan agama islam. Selaian dalam bidang agamnya yang kental, Aceh juga terkenal dengan berbagai budaya dan adat tradisinal yang menarik. Provinsi yang terletak se-arah dengan ‘sabang’ ini tak kalah unik dengan provinsi-provinsi lain di Indonesia. Wilayah ini patut masuk dalam pembahasan situs budayakusatu. Nanggroe Aceh Darussalam selain dikenal dengan kekentalan agama, provinsi ini memilki fakta menarik yang harus kita ketahui, simak penjelasan dibawah ini ya. 

1. Geografis Nanggroe Aceh Darussalam

Kita pasti sudah tau ya kan kalo setiap daerah, wilayah, atau provinsi di Indonesia memiliki luas, suku, letak, jumlah penduduk yang berbeda-beda. Hal ini biasanya mempengaruhi perihal perkembangan budaya daerah. Ibu kota dari Nanggroe Aceh Darussalam adalah Banda Aceh sekarang, kalo dulu di Koetaradja. Provinsi yang berpenduduk mayoritas islam ini sudah berdiri sejak 7 Desember 1959, atau tepatnya 62 tahun yang lalu dari tahun 2021 dan diatur dalam UU RI No. 24/1956, UU RI No 44/1999, UU RI No 18/2001, dan UU RI No 11/2006 oleh pemerintah Aceh. Tak hanya itu saja, letak Pprovinsi Aceh berada dalam Pulau Sumatera dengan garis lintang 1° 40’ - 6° 30’ LU (Lintang Utara) dan 94° 40’ - 98° 30’ BT (Bujur Timur). 

Dalam segi Wilayah Administrasi, Provinsi Aceh memiliki 18 Kabupaten dengan 5 Kota, 286 Kecamatan serta 108 Kelurahan dalam 6.321 Desa yang tersebar. Menurut perhitungan pada tahun 2011 jumlah penduduk dalam wilayah ini sebanyak 4.9948.907 Jiwa dengan suku dan marga yang berkembang disana adalah Aceh, Gayo, Alas, Tamiang, Jawa, Simeuleu, Kluet, Aneuk Jamee. Suku-suku tersebut sudah ada sejak lama dan seiring bertambahnya tahun muali banyak suku pendatang yang masuk diantaranya Jawa, Minag, palembang, dan Makassar. Kalau banya suku yang masuk, bagaiaman dengan bahhasa yang digunakan di Aceh? Dampak dari beberpa suku, Bahasa daerah Aceh yang digunakan adalah Aceh, Alas Gayo, Tamiang. 

Nanggroe Aceh Darussalam sudah lama terkenal dengan penduduk yang mayoritasnya beragama Islam, karena Aceh sendiri masuk dalam kategori wilayah Kesultanan. Menurut perhitungan secara kuantitas agama yang tersebar di Nanggroe Aceh Darussalam ada Islam: 98,80%, Kristen Protestan: 0,84%, Katholik: 0,16%, Buddha: 0,18%, dan Hindu: 0,02%, perhitungan diatas terhitung pada tahun 2011. Kalau dilihat dari segi Flora dan Fauna yang menjadi ciri khas dalah Bungong Jeumpa dan Cempala Kuning. 

Flora Bungong Jeumpa (Michelia Champaca) sendiri merupakan sebuah tanaman atau tumbuhan Bunga Cempaka yang dijadikan sebagai lambang kebanggaan warga Aceh. Bunga ini memiliki keistimewaan yaitu dapat tumbuh denagn sendirinya sevar liar tanpa harus dilakukan penanaman secara sengaja. 

Fauna Cempala Kuning (Copychus Pyrropygus) adalah se-ekor burung khas dari Aceh dan merupakan satwa yang masuk dalam daftar dilindungi. Cempala Kuning memiliki beberapa nama lain seperti Cempala Kuneng dan Kucica Ekor Kuning, karena mempunyai ekor berwarna kuning. Sayangnya, hewan satwa ini mulai jarang ditemukan dan agak sedikit terancam kehidupannya (mendekati langka). 

2. Baju Adat Nanggroe Aceh Darussalam (Pakaian Tradisional Aceh)

baju adat aceh kartun

Kita pasti sudah tau kalau setiap provinsi di Indonesia memiliki pakaian tradisional atau baju adat yang sangat unik, menarik dan berbeda-beda setiap daerahnya, hal ini sebagai penanda dalam ciri kekhasan masing-masing daerah atau provinsi. Secara umum Baju Adat Nanggroe Aceh Darussalam bernama Ulee Baleng. Sama halnya seperti pakaian adat di Provinsi lain, Nangroe Aceh Darussalam juga membedakan antara pakaian tradisional Pria dengan Wanita atau laki-laki dengan perempuan. 

2.a. Pakaian Adat Pria Nanggroe Aceh Darussalam 

Baju adat Aceh yang dikenakan oleh kaum pria disana dikenal dengan nama Linto Baro. Sebagai pelengkapnya, Linto Baro sendiri terdiri atas Makutup (ikat kepala/penutup kepala/kopiah), Baje Meukasah (jas hitam), Cekak Musang (Celana Panjang), Ija Lamgugap (kain sarung), dan Rencong (Senjata Tradisional Aceh). Nah, untuk Rencong ini akan kita bahas nanti setelah pakaian adat Nanggroe Aceh Darussalam ya. Makutup sendiri merupakan pelengkap pakaian daripada linto Baro yang dikenakan di atas kepala, dengan kain yang ditenun rapi dan perpaduan warna emas menambah kharisma sang pemakaianya. Sedangkan, untuk Beje Meukasah merupakan jas hitam dengan lis emas sebagai pengkapanya menambah kewibawaan yang tinggi. Lalu, Cekak Musang atau celana panjang yang digunakan juga berwana hitam dengan perpaduan garis emas sebagai pasangan Beje Meukasah. Sebagai pelengkapanya, ada Ija lamgugapp yang merupakan sejenis kain sarung yang di-ikat di pinggang untuk dan digunakan untuk menempatkan Senajata tradisional Aceh yang bernama Rencong semakin menambah gagah pemakainya. 


2.b. Pakaian Adat Wanita Nanggroe Aceh Darussalam 

Baju Adat Aceh yang digunakan sang wanita bernama Daro Baro. Daro Baro dikenakan dengan pelengkapnya yaitu Baju Kurung Lengan panjang sebatas pinggul denngan kerah baju yang mirip dengan kerah baju khas china, yaiut terdiri dari: celana atau cekak musang dan sarung atau Ija pinggang yang memiliki corak dengan cara penggunaan dilipat hingga pinggang sebatas lutut saja. Beda dengan Pria, pada kaum wanita menggunakan aksesoris yaitu perhiasan yang berupa kalung atau Kula, ikat pinggang atau pending, gelang tangan, dan gelang kaki. Pada bagian atas yaitu rambung dengan sanggul dan dikasih aksesoris dengan bentuk bunga. 

3. Senjata Tradisional Nanggroe Aceh Darussalam

rencong

Tahukah kalian bagaimana Aceh disebut dengan nama “Tanah Rencong” ? Rencong merupakan senjata tradisional dari Nanggroe Aceh Darussalam (Aceh). Saat itu, Rencong sendiri sangat tenar dikalangan penduduk Aceh. Maka dari itu, Nanggroe Aceh Darussalam disebut dengan nama “Tanah Rencong’. Senjata tradisional khas Aceh ini berbentuk sebalah pedang yang terbuat dari besi pada umunya dan pada bagian yang digenggam atau pangkalnya serta wadah yang digunakan terbaut dari kayu. Keunikan Rencong terletak pada aksesoris yang digunakan, rencong yang asli berhiaskan permata atau emas pada bagian kepalanya. Nilai yang terdapat pada Senjata tardisional Aceh, yaitu rencong memilki arti berani dan kepahlawanan. Karena, pada saat itu rencong digunakan sebagai senjata Tradisional melawan Kolonial yang ingin merebut kekuasan di Indonesia. 

4. Lambang Provinsi Aceh (Nanggroe Aceh Darussalam)

pancacita

Kita pasti sering liat kalau pas sekolah dulu ada lambang atau bet sebuah provinsi yang bertuliskan Provinsi Jawa Tengah, Provinsi Aceh, Provinsi Sumatera Barat, dll. Nah, bet yang ditempelkan di seragam skolah tersebut merupakan lambang setiap Provinsi, yang pasti berbeda-beda berdasarkan arti dan maknanya. Sama halnya dengan Lambang Provinsi Aceh memiliki arti serta makna yang menggambarkan tujuan daripada Provinsi itu sendiri. Pada lambang Provinsi Aceh diberi nama “Pancacita”, yang berarti memiliki 5 makna dan arti, seperti halnya pancasila dengan 5 tujuan yang disampaikan.  

4.a. Penjelasan Lambang Pancacita Provinsi Aceh

Kalau kita lihat secara seksama pada lambang Pancacita terdapat beberapa gambar yang pasti membuat kita bertanya-tanya apa nama dan arti dari gambar-gambar yang terdapat pada Pancacita itu.  Lambang dengan bentuk segilima itu memiliki terdiri atas gambar :

  1. Timbangan atau dacin: Keadilan
  2. Rencong: Kepahlawanan
  3. Padi, Kapas, Lada, Cerobong Pabrik: kemakmuran
  4. Kubah Masjid: Kerukunan
  5. Kitab dan Kalam: kesejahteraan

5. Tari Tradisional Aceh

Tari Tradisional Aceh kartun

Ada beberapa jenis tari tradisional dari provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (Aceh) yang terkenal, seperti Saman, Seudati, Laweut, Ratoh Duek, dll. Namun, yang paling terkenal ada Saman dan Seudati. Untuk tari saman sudah kami rangkum secara lengkap pada Sejarah dan Asal-usul tari saman yang unik dan menarik. Untuk saat ini, kita akan membahas salah satu tari tradisional Seudati yang berasal dari Aceh atau Nanggroe Aceh Darussalam. Tari Seudati sudah ada sejak lama yang mengadopsi dari kata “Syahadat” yang memiliki arti sebagai bentuk pengakuan bahwa “Tiada Tuhan Selain Allah dan Nabi Muhammad adalah Utusan Allah”. Sebenarnya, menurut dengan tujuannya bahwa tari ini ditujukan sebagai tari perang, karena makna yang terkandung dalam tarian itu sebagai pembangkit semangat bagi kamu muda dalam melawan pemberontakan kolonial pada saat itu. 

5.a Baju yang digunakan dalam Tari Seudati

Dalam memainkan Tarian Tradisional Khas Aceh ini, properti yang digunakan dalam Tari Seudati bisa dikatakan cukup simple, yaitu dengan mnggunakan kaos polos warna putih dengan lengan panjang, celana putih polos, kain jenis songket yang berada di pinggang dengan cara diikatkan, serta penutup atau properti di kepala yang bernama Tangkulok. 


6. Rumah Adat Tradisional Nanggroe Aceh Darussalam (Rumoh Aceh)

lukisan rumah adat aceh

Rumah Adat merupakan bangunan rumah yang menjadi ciri khas sendiri pada setiap daerah provinsi. Rumah Adat atau Rumah Tradisional Aceh bernama Rumoh Aceh. Kalo kalian pernah liat bangunan tradisional ini, kalo di pandang sekilas mirip dengan rumah gadang pada bagian bawahnya, yaitu jenis rumah panggung. Namun, bedanya tidak menggunakan atap dengan ujung berbntuk tanduk. Dari segi bentuk, rumah adat Aceh simple dan unik, ditambah lagi dengan beberapa corak, ukiran, dan ornamen yang menghiasi, sehingginga membuat Rumoh Aceh jadi salah satu ruamh adat unik di sebgain Provinsi di Indonesia. 

Dalam arsitektur yang diterapkan pada Rumoh Aceh, masih sangta tradisional dengan bahan bangunan utama adalah kayu meranti dan atap yang digunakan masih berhubungan dengan tumbuhan, yaitu daun rumbia. Bentuk Rumoh Aceh memanjang dengan satu tangga di bagian depan rumah sebelah kiri. Berbicara soal ketinggian rumah jenis panggung, biasanya dipatok dengan tinggi 3 meter dari permukaan tanah dengan tiang penopangnya berjumlah genap dan kalau untuk jumlah tiang menyesuaikan besar tidaknya Rumoh Aceh tersebut. 


7. Alat Musik Tradisional Nanggroe Aceh Darussalam (Aceh)

rebana aceh kartun

Perihal dengan alat musik aceh, pasti kalian sduah sering melihat ketika ada kelompok yang memainkan hadroh dengan ketukan dan irama yang kompak. Alat musik tradisional aceh yang paling terkenal adalah Rebana, dengan bentuk bundar dan pipih terbaut dari kulit hewan (sapi) dan kayu sebagai bingkai yang melingkar. Cara memainkan Alat musik tradisional aceh dengan cara di tabuh mengikuti nada, ketukan, dan irama yang sudah ditentukan pada lagu yang dimainkan. 

8. Peta Wilayah Aceh 

Aceh merupakan provinsi yang terletak di pulau Sumatera paling ujung (Sabang), kalian yang sering melihat atlas pasti sudah tau mana pulau sumatera itu. Untuk lebih jelasnya, kalin bisa simak gambar berikut ini. Berbagai luas wilayah, jumlah penduduk, garis lintang, dll sudah kami sampaikan diatas pada poin 1 ya, apabila kurang jelas kalian bisa memahami sekali lagi. 

peta buta aceh

9. Lagu Daerah Aceh 

Sama halnya dengan provinsi-provinsi yang tersebar di seluruh Indonesia, Nanggroe Aceh Darussalam juga mempunyai lagu daerah yang bernama Bungong Jeumpa. Untuk memainkan lagu ini, dengan nada dasar Do=C, dengan ketukan 4/4 dan dimulai dengan not 6 (La). Untuk liriknya sebagai berikut: 

Lirik Bungong Jeumpa beserta Not dan Nadanya

lirik lagu Bungong Jeumpa dan notnya

Penutup

Itulah informasi mengenai 8 Fakta Menarik Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam secara lengkap. Adat dan budaya Indoensia sangat kaya dan banyak, hal ini berdampak pada perbedaan masing-masing daerah mengenai tradisionalnya, seperti rumah adat, pakaian tradisional, tarian adat, lagu daerah dll. Seperti halnya dengan provinsi Aceh yang memiliki banyak fakta unik yang patut kita pelajari, selain menjadi pengetahuan, informasi ini juga dapat digunakan sebagai pendidikan. Akan ada hal yang baru lagi mengenai adat dan budaya indonesai lainnya, termasuk dari mancanegara. Kalian bisa request perihal informasi budaya dan adat tradisional lainnya untuk kami ulasa kembali. Semoga bermanfaat dan membantu. Terima Kasih. 

Posting Komentar untuk "9 Fakta Menarik Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam"