Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

8 Fungsi Ungkapan Tradisional dalam Peribahasa Jawa

Konten [Tampil]
quotes cinta jawa

Ungkapan tradisional dalam peribahasa Jawa merupakan wejangan atau petuah pemberian bekal moral tentang tingkah laku hidup dalam masyarakat kepada seseorang, dan merupakan pesan kepada anggota masyrakat dalam upaya mewujudkan atau mencapi cita-cita bersama dalam kepentingan sosial. 




Dengan kata lain, bahwa ungkapan tradisional peribahasa Jawa dapat dimanfaatkan sebagai: sarana sosial, sistem proyeksi, saran pendidikan, alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat selalu dipatuhi oleh anggota kolektifnya. 

Apa itu Peribahasa Jawa? 

Dalam bidang bahasa, peribahasa jawa merupakan kumpulan kata yang digunakan dalam memberikan pendidikan serta nasihat kepada seseorang dengan menggunakan Bahasa Jawa yang memiliki makna cukup dalam dan berbobot. Orang Jawa zaman dulu sering menggunakan ungkapan tradisional peribahasa sebagai sarana memberikan gambaran hidup kepada anak cucunya agar tidak salah dalam menjalani hidup. 

Fungsi dalam Ungkapan Peribahasa Jawa 

Secara umum, setiap peribahasa yang terdapat dalam setiap daerah masing-masing memiliki arti yang cukup dalam sebagai bekal dalam kehidupan manusia. Untuk itu, dalam peribahasJawa sendiri memilki beberapa fungsi dalam Ungkapan Tradisional yang patut kita pelajari agar kita tahu arti dan penjelasannya seperti apa, karena peribahasa Jawa cukup terkenal di tanah air ini. 



1. Sebagai Pembimbing dalam Bidang Agama dan Keyakinan

Peribahasa Jawa sebagai ungkapan dalam pemberian pengarahan dan nasihat dalam bidang keyakinan dan spiritual umat manusia sebagai berikut:

a. Pasarah Karo Sing Gawe Urip

Ungkapan peribahasa Jawa ini memiliki arti bahwa, kita sebagai manusia hendaknya selalau berserah diri kepada Allah SWT, karena kekuasaan tertinggi berada ditangan-Nya. Kita hanya  bisa menjalankan dan berusaha, namun Tuhan sebagai sang kuasa yang bisa menentukan. 

b. Urip Kang Prasaja Lan Ojo Mung Melik Gebyar

Peribahasa Jawa di atas dimaksudkan untuk kita sebagai manusia tidak boleh selalu mementingkan dunia, sedangkan tidak ingat kepada sang pencipta. Contohnya tidak menjalankan ibadah yang telah diatur sesuai dengan kitab pendoman dalam masing-masing agama. 

c. Kudu Eling Lan Waspada

Unkapan ini bisa dibilang singkat, namun mempunyai arti yang sangat dalam. Dalam artian, ketika hidup saat ini, kita harus selalu ingat siapa pencipta dan penguasa di bumi ini dan harus waspada dalam berbagai godaan duniawi yang dapat menjerumuskan hidup kita. 

d. Gusti Maha Pirsa, Gusti Allah Ora Sare

Ungkapan ini mengingatkan kepada kita bahwa Allah Maha Tahu terhadap yang selalu kita lakukan dan Allah tidak tidur untuk selalu mengawasi hidup kita. 

2. Pembinaan Kepribadian Andhap Asor (rendah hati) dan Jujur serta tidak Sombong

Ungkapan tradisional peribahasa Jawa yang mengandung pembinaan kepribadian yang rendah hatim terhormat terhadap sesama adalah:

a. Aja Dumeh, Ojo Ngewak-ewake, Ladak Kecengklak

Peribahasa Jawa di atas maksudnya watak sombong, angkuh biasanya semena-mena terhadap orang lain, kejam, penindas, dan senang menghina orang. Contohnya: Ana Pocapanipun. Telu pisan mati sampyoh, adiguna ula iku. 

b.  Becik Ketitik ala Ketara, Wis Kebak Sundukake

Maksudnya: semua perbuatan kejahatan/keburukan seseorang apabila telah banyak akan diketahui dan dinilai oleh orang lain, serta mendapatkan murka Tuhan.

c. Ajining Diri gumantung Kedaling Lathi, Ajining awak aneng tumindak, ajining raga aneng busono, ajining jiwa ana tindak utama.

Maksunya: hendakanya kira selalu mawas diri, intropkesi, dan bebuat baik kepada sesama. 

3. Pembinaan Kesabaran, kedisiplinan, dan Berhati-hati

Kesabaran, kedisiplinan dan sifat berhati-hati dalam berbuat di dalam masyarakt banyak dituangkan dalam ungkapan tradisional peribahasa jawa, antaranya itu:

a. Yitna yuwono, lena kena
siapa yang berhati-hati akan selamat, siapa yang ceroboh akan celaka.

b. Aja nggege mangsa, wsing bisa angon mangsa/nonton kahanan, sing sabar lan nerima, alon-alon waton kelakon

Peribahasa Jawa tersebut mengandung nilai kesabaran, disiplin, tidak tergesa-gesa, ulet dalam bekerja, dan cermat. 

4. Membangkitkan etos kerja atau kerja keras dan rela berkorban

Rela berkorban dan semangat kerja keras dalam membangun negara persatuan repulik Indonesia amat dibutuhkan. Ajaran tersebut dituangkan dalam ungkapan tradisional peribahasa jawa sebagai berikut;

a. Ngelmu iku kalakone kanthi laku, jur basuki mowo beya

Ungkapan tersebut mengingtakan kepada kita  terhadapa prinsip, kesadaran rasional anatar laku dan tuju, kerja keras, serta kesadaran moral, kesediaaan berjuang atau berkorban. 

b. Gliyak-gliyak waton tumindak, waton gelem kemrebyah mesthi bisa mamah, alon-alon waton kelakon

Artinay adalah manusia wajib bekerja meskipun santai, daripada sama sekali menganggur atau jangan senang nganggur. 
c. Sepi ing pamrih, rame ing gawe

Maksudnya adalah pendidikan ke arah amu bekerja keas dengan motf yang bersih atau ikhlas.

d. Rawe-rawe rantas malang-malang putung.

Uangkapan tersebut artinya dalam meraih cita-cita- harus semangat, bekerja keras, pantang mundur/menyerah. 

5. Rela berkorban demi kejayaan atau kepentingan bersama 

Hal diatas dapat diperhatikan pada ungkapan periabahasa jawa berikut: 

a. Wani ngalah lihir wekasane

Lengkapanya seperti ini: dedalane guna lawan sekti/kudu andhap asor/ wani ngalah luhir wekasane/ tumungkulo yen dipundukani/ bapang desimpangi/ ana catur mungkur

Maksudnya; demi tercapainya tujuan yang lebih mulia dan kepentingan bersama, rela mengendalikan diri. Maksud secara vertikal, seseorang yang selalu menjalankan perintah dan dekat dengan-Nya, akan mendapat kehidupan yang mulia. 

6. Menjunjung Nama Baik Orang Tua, Bangsa, dan Negara

Orang tua, bangsa, dan negara harus dijaga keharumannya, sehingga wajib membela hingga sampai titik darah penghabisan. Hal tersebut dapat diperhatikan pada ungkapan di bawah ini. 

a. Mikul dhwur Mendhem Jero

Arti peribahasa Jawa di Atas, bahwa setiap anak harus selalu menjaga nama baik orang tua, dan selalu memohonkan ampun agar terampuni segala kesalahan dan dosanya (micro). Maksud micro disini adalah bahwa seriap warga negara harus selalu menjada wibawa, nama baik, dan rahasia negara, jangan sampai martabat negara diinjak-injak oleh negara lain. 

7. Pelestarian atau kepedulian lingkungan 

Setiap warga negara wajib menajaga kelestarian lingkungan, baik lingkungan udara, laut, hutan, sawah/ladang, maupun lingkungan rumah. Ajaran tersebut dapat diperhatikan dalam ungkapan tradisional dibawah ini. 

a. Memayu hayuning jiwa, raga, bawana

Artinya, manusia hendakanya selalu menjaga kebersihan dan keindahan lingkungan, baik secara fisik, dan yang lebih esensi adlaah keindahan/kesucian rohani. 

8. Pembinaan Kerukunan dan Persatuan Bangsa

Kerukukan antar sesama dalam menjada persatuan dan kesatuan bangsa dalam era reformasi dewasa ini amat dibutuhkna, karena ada gejala disintegrasi bangsa yang amat mebahayakan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Ajaran tersebut dapat diperhatikan pada peribahasa berikut: 

a. Sedhumuk Bathuk, Senyari Bumi

Peribahasa Jawa tersebut dalam artian sempit mengandung nilai pendidikan ke arah pendidikan membela semua mulik pribadi. Dalam arti luasd adalah pendidikan nasionalisme dan patriotisme, serta persatuan bangsa, yaitu setiap warga negara harus berani membela negara, bela bangsa dan tanah air. 

b. Rukun gawe santosa, crah gawe bubrah

Maksudnya adalah pentingnya selalu membina dan menggalang kerukunan serta persatuan yang kokoh dalam mewujudkan cita-cita bersama. 

c. Tuna satak bathi sanak

Pentingnya banyak teman, sahabat, serat rela berkorban.

d. Ana rembug yo dirembug, ngono yo nogno ning ojo ngono

Peribahasa jawa tersebut mengandung ajaran agar seseorang mau menghargai arti pentingnya musyawarah untuk mencari mufakat, 

e. Dudu sanak dudu kadang, yen mati melu kelangan

Artinya adalah dalam membela negara, kerunakan, kerjasama, Sali menolong antarwarga negara sangat dibutuhkan, dianggapnya saudara kandung sendiri. 


Kesimpulan 

Berdasarkan seklias urainan diatas mengenai 8 Fungsi Ungkapan Tradisional dalam Peribahasa Jawa, dapatlah disimpulkan bahwa peribahasa jawa merupakan kalilam pendek yang disarikan atau kristalisasi pengalan yang panjang. Sehingga dalam "peribasan" (peribahasa) mengandung nilai filsafat atau kebijaksanaan/kearifan hidup yang melekat pada lingkungan timbulnya "paribasan" tersebut, yang notabene dapat difungsikan sebagai salah satu alternatif pemecahan masalah di masyarakat. 


Sumbangan Ungkapan Tradisional hingga sekarang relatif masih berperan di masyarakat untuk menanggapi berbagai masalah dalam pengawasan atau kontrol sosial. Terbukti, sebagian pemuka masyarakat masih menggunakan ungkapan tradisional dalam memotiovasi semnagat kerja rakyat demi suksesnya pembangunan nasional.  

Posting Komentar untuk "8 Fungsi Ungkapan Tradisional dalam Peribahasa Jawa"