Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Penonton Seni Tradisi Kian Memprihatinkan di Kalangan Generasi Muda

Konten [Tampil]

Perkembangan seni tradisi (wayang orang, wayang purwa, ketoprak, ludruk, dan sebagainya) amat didukung dan ditentukan oleh pilar-pilar penyangganya, yaitu para pelaku budaya (seniman, dalang), pelestari budaya (lembaga yang langsung terkait, media masa), dan kritikus budaya (budayawan, seniman akademik, wartawan). Keempat penyagga tersebut saling terkait, mendukung, dan tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. 

Dalam rangka melestarikan dan mengembangkan seni tradisi agar lebih berkualitas dan berbobot dalam sajian atau pementasannya, sering dilakukan  penataran, seminarm sarasehan kepada para seniman, pecinta seni tradisi di berbagai daerah yang dilaksanakan oleh Pepadi, Senawangi, Ganasdi sejak tingkat pusar hingga tingkat daerah, dan tidak ketinggalan lembaga formal terkait (ISI, STSI, SKW, SMKI/SMK 8, dan sebagainya) juga sering mengadakan kegiatan akademis atau pengabdian masyarakat (penataran, seminar) kepada para pelakua budaya, tujuannya agar para dalang, seniman dalam mengemban visi dan misi seni tradisi, dalam menyajikan garap pementasan semakin terarah dan berkualitas. Sehingga garap sajian seni pertunjukannya benar-benar dapat bermanfaat ganda, yakni menghibur sekaligus mendidik para penonton.


Baca Juga: Peran Sunan Kalijaga dalam Seni Tradisi


Mengingat dalam pertunjukan seni tradisi penuh tawaran nilai yang dikemas dalam sanggit cerita dan berbagai simbol yang disajikan. Berbagai ajaran tersebut apabila dicermati serta dihayati dapat dijadikan salah satu alternatif dalam membentuk sikap yang terpuji, membentuk manusia yang berbudaya, beretika dan bermoral. 

Pentingnya Pembinaan Penonton Seni Tradisi

Peran penonton dalam pertunjukan seni tradisi amat besar dan menentukan, karena salah satu parameter keberhasilan pertunjukan sei tradusu adalah banyaknya penonton dalam merespon. Dengan kara lain, barometer popularitas perkembangan seni tradisi di masyarakat, salah satunya adalah penonton atau masyarakat itu sendiri. 

3 orang wanita sedang main gamelan

Meskipun pagelaran suatu seni tradisi telah digarap, di sanggit dengan penuh kualitas, kreatifitas, dan penuh nilai moral, namun apabila tidak ada penggemar dan penonton, mka pertunjukan tersebut dianggap gagal dan tidak berguna. Karena tidak dapat diapresiasi dan dimanfaatkan masyarakat. Akhirnya seni tradisi tersebut akan mati atau punah, karena tidak ada pendukungnya lagi, dan masyarakat telah meninggalkannya, seperti wayang Beber, wayang dupura atau wayang orang sriwedari yang hingga kini semakin ditinggalkan penonton. 

Untuk itu, harus segera dilakukan langkah-langkah konkrit dan terpadu pentingnya pembinaan terhadadap keberadaan, pelesatrian serta perkembangan seni tradisi, sebagai aset dan kekayaan budaya ibu pertiwi. Karena apabila diamati dengan cermat dan seksama penonton seni traidis dewasa ini terputus secara estafet atau penerus pendukung seni tradisi akan putus, karena persaingan hiburan di televisi. 

Baca Juga: Semangat Nasionalisme dalam Lagu-Lagu Dolanan Seni Karawitan

Dalam era globalisasi seperti sekarang ini, arus informasi amat cepat dan tidak dapat terhindarkan. Berbagai persitiwa politik, peperangan, dan kekerasan, budaya, seni yang terjadi di berbagai belahan sbumi, segera dapat dilihat oleh masyarakat di seluruh penjuru dunia. Sebagai dampaknya akan sangat berpengaruh terhadap sikap para pemirsa. 

Anak-anak, generasi muda kita sejak kecil, sejak bangun tidur telah disuguhi berbagai bentuk kesentian lewat TV aatu VCD yanag berbasis budaya Barat/modern. Generasi muda amat jarang, tidak senang dan tidak tertarik lagi melihat acara seni tradisi dengan berbabgai alasan, yaitu kuno, ketinggalan zaman, monotn, membosankan, membuat ngantuk, tidak senang dan tidak paha, bahasa pengantarnya. Sehingga di dalam keluarga sering terjadi perebutan dalam menonton acara televisi antara orang tua dengan anak-anaknya. Generasi tua masih akrab, menyatu dan rindu terhadap keindahan seni tradisi, namun sebaliknya anak-anak atau generasi muda telah akrab dan dibentuk oleh keadaan serta kebiasaan menonton TV. 

Kebiasaan tersebut secara tidak sengaja telah membentuk sikap generasi muda kita lebih dekat dan cinta kepada seni modern, dan tidak tahu lagi serta merasa asing terhadap seni tradisi milik budaya sendiri. Lalu bagaimana upaya dan langkah yang harus ditempuh agar generasi zaman sekarang masih tetap cinta dan merasa memilki terhdapap kehidupan serta perkembangan dan keberlangsungan seni tradisi? 

Upaya Pembinaan Penonton Seni Tradisi

seorang anak perempuan sedang menari

Pembinaan dan upaya yang harus segera ditempuh dan dilakukan agar para penonton, khusunya generasi muda pada umunya tetap cinta terhadap seni tradisi adalah dengan cara sosialisasi melalui:

  1. Jalur pendidikan formal. Pendiidkan resmi merupakan sarana yang paling efektif dan strategis untuk mengadakan pembinaan para anak didik (TK, SD, SMP, SMA, Mahasiswa) agar dekat, cinta, dan merasa memilki dan bertanggung jawab terhadap seni tradisi. Caranya para pendidik sering memberikan tugas (PR) kepada anak didik untuk membuat berbagai ulasan atau kajian yang berkaitan dengan seni tradisi. Misalnya silsilah tokoh wayang atau ketoprak, mengkaji watak setiap tokoh wayang, dan sebagainya, atau mata pelajaran kesenian daerah dan bahasa Daerah (Jawa) harus ditingkatkan apabila jam pelajaran amat terbatas perlu ditambah kegiatan ekstra untuk dapat latihan praktek tembang-tembang Jawa, praktek karawaitan, menabuh gamelan, seni tari, dan lain sebagainya. 
  2. Setiap sekolah atas izin intruksi DIKNAS bekerjasama dengan instansi atau lembaga terkait (STSI, ISI, SMKI/SMK 8, STKW), tujuannya agar para siswa secara periodik dan terprogram dianjurkan untuk melihat pertunjukan seni tradisi yang dipentaskan pada waktu siang hari dengan garap sajina khusus atau pada singkat. Dalam melihat pertunjukan seni tradisi tersebut para siswa harus membuat laporan tentang berbagai masalah, manfaat, nilai-nilai yang dapat ditangkap selama melihat pementesan seni tradisi tersebut. Misalnya, setiap bulan sekiali, semua sekolahan mengharuskan kepada para siswa untuk melihat pertunjukan wayang orang di Gedung Sriwedari atau ketoprak di Balekambang, pentas wayang kulit pada di TBS, atau STSI, dan SMKI sewaktu ujian akhir atau sajian khusus, serta dapat melihat pagelaran seni tradisi di RRI Surakarta. Sehingga kerjasama tersebut akan terus berjalan dan berlanjut, saling menguntungkan dan bermanfaat. Seperti ketika melihat atraksi ikan “lumba-lumba yang digelar di Manahan, ternyata berbagai sekolahan di Surakarta mengharuskan para muridnya untuk melihat dengan harga tiket masuk yang cukup mahal. Apabila hal tersbeut dapat ditiru dan dijadikan agenda khsusus setiap sekolahan, para siswa akan semakin dekat dengan seni tradisi. 
  3. Para siswa dalam seminggu atau sebulan sekali diwajibkan membaca buku atau majalah yang mengkaji tentang seni tradisi, baik yang berbahasa Jawa atau yang berbahas Indonesia, serat diminta untuk membuat ringkasan dan komentarnya, atau bisa juga sebulan sekali para siswa melihat pertunjukan wayang lewat TV dan ditugasi membuat laporan tentang hal tersebut. 
  4. Dalam setai keluarga, khsuusnya para orang tua wajib peduli dan mau memperkenalkan berbagai bentuk seni tradisi. Misalnya menyediakan sebuah video yang berisi tentang ketoprak, wayang untuk anak-anak, dan setiap seminggu sekali diputar bersama-sama untuk diapresiasi dan dikaji. 
  5. Sering diadakan lomba yang berkaitan dengan seni tradisi, misalnya lomba tembang Jawa, menabuh gamelan, lomba bahasa Jawa alus (ngoko – kromo) atau bahasa Indonesia. 
  6. Setiap TV dalam seminggu sekali wajib menayangkan acar seni tradisi yang disajikan pada siang atau sore hari, sehingga para anak didik hingga generasi muda mudah untuk melihatnya. 
  7. Pemerintah daerah hingga pusat membuat program atau kurikulum secara terpadi yang berbasis budaya timur, bahkan sekedar kurikulum yang berbasis kompetensi dan cenderung mengorbankan mata pelajaran yang berbau lokal, mislanya seni tradisi serta menugasu kepada setiap DIKNAS agar mewajibkan setiap sekolahan memberikan pelajaran seni tradisi dengan sungguh-sungguh dan tidak sekedar tambahan saja, terlebih dalam rangka otonomi daerah. 
  8. Setiap ruang kelas wajib dipasang gambar tokoh seni tradisi yang protagonis dan selalu cinta tanah air. 
  9. Dalam lungkup masyarakat sering diadakan pagelaran seni tradisi dalam memperingati hari-hari besar nasional atau upacara adat perlu digalakan. 
  10. Pagelaran seni tradisi perlu dimasukan dalam program komputer, sekalian dimasukan dalam program internet, sehingga keberadaan seni tradisi selalu dekat dengan generasi muda dan tidak hanya gambar-gambar yang berbau negatif yang cenderung merusak moral generasi bangsa. 


Kesimpulan

Dalam pagelara seni tradisi apabila diapresiasi dengan jeli ternyata penuh nilai kearifan sosial, bela bangsa, pembinaan buda pekerti, rela berkorban demi kebenara, persatuan dan kesatuan bangsa, dan sebagainya. Untuk itu, berbagai nilai luhur tersebut harus diwariskan kepada generasi penerus, agar menjadi generasi yang cinta terhadpa budaya bangsa sendiri. Sehingga peran pemerintah sebagai penentu, sangat penting. Demi mengejar kemajuan budaya bangsa yang modern, pembinaan sikap genarasi muda lewat seni tradisi tidak perlu di pikirkan, biarlah berkembang secara alami dan mengikuti perkembangan jaman yang semakin cepat. 


Posting Komentar untuk "Penonton Seni Tradisi Kian Memprihatinkan di Kalangan Generasi Muda"