Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Peran Sunan Kalijaga dalam Seni Tradisi

Konten [Tampil]

Peran Sunan Kalijaga dalam Seni - Sunan Kalijaga merupakan salah satu anggota dari walisongo yang amat menarik dan terkenal dalam masyarakat Jawa. Bahkan, hingga sekarng di kalangan masyarakat Jawa tradisionala masih ada kepercayaan dan banyak orang (jawa) apabila bercita-cita untuk meraih sesuatu tujuan dengan mealkukan kegiatan spiritual atau olah batin denagn “nglakoni kungkum” (merendam diri di sungai0 agar cita-citanya terkabul. 

lukisan sunan kalijaga dengan background bulan

Dalam melakukan laku tirakat tersebut, biasanya ditemui oleh Sunan Kalijaga yang berpakaian Kejawen jangkep (Jawa Lengkap) dengan warna hitam (wulung), sehingga tidaklah aneh apabila nama Sunan Kalijaga tetap menyatu dan bergema di hati serat berkembang di tengah-tengah budaya dan masyarakat Jawa Tradisional. 

Peranan dalam Seni Tradisi

Sunan kalijaga dalam menyebarkan agama samawi, khsusunya Islam di bumi pertiwi ini melalui wahan budaya tradisi Jawa, terutama lewat dunia seni yang telah menjadi idaman masyrakat pribumi, bahkan telah menjadi bagian hidup masyarakat Jawa. Berbagai produk budaya traidisi  tersebut misalnya: seni pakain, sastra, atau usara, seni ukir, seni gamelan, dan kesenian wayang. 

1. Seni Pakaian

Dalam seni pakaian, Sunan Kalijaga adalah orang yang pertama sebagai pencipata baju Takwo, ataua dalam bahasa Arab Taqwa yang berarti taat dan berbakti kepada Allah S.W.T, kemudian disempurnakan oleh sulatan Agung hanyakrakusuma dengan dhestar menyamping, iket atau blankon dan kain jarik, dilengkapi dengan rangakaian keris. Keris yang biasanya digunakan adalah berbentuk ladrangan, dan apabila melayat orang meninggal menggunakan keris bentuk gayaman. 

2. Seni Suara dan Sastra

Peran Sunan Kalijaga dalam sastra atau seni suara adalah beliau sebagai pencipta tembang Dhandangdulo, lagu dolanan “lir-ilir, Jelungan. Tembang tersebut hingga sekarang masih berkembang di masyrakat, dan biasanya digunakan untuk acara middodareni (malam menjelang pernikahan). Ketiga jenis dolanan tersebut amat sarat dengan nilai filsafat yang amat berguna terhadap pembinaan dan pembangunan manusia yang utama. 

3. Seni Ukir

Dalam seni ukir, Sunan Kalijaga menciptakan ukiran bermotif lung-lungan atau dedaunan, bentuk gayor atau alat temapt untuk menggantungkan gamelan (kempul, gong) dala seni karawtian, dan bentuk ornamen burung. Burung dalam bahasa kawi disebut kukila, yang berasal dai bahasa Arab quu-qila, artinya pelihara ucapanmu dengan sebaik-baiknya, yang sebelumnya mayoritas seni ukir bermotif manusia dan binatang. 

4. Seni Gamelan

Jenis Seni gamelan ciptaan Sunan Kalijaga adalah gamelan sekaten, dari kata syahadatain (Arab) dengan gending rambu dari kata Robbuna (Arab) artinya Allah Tuhanku (Syahadat Tauhid), dan gending gending Rangkung dari kata Roukhun (Arab) artinya jiwa besar atau jiwa yang agung (Syahadat Rasul). Gamelan sekaten itu dibunyakn setahun sekali pada bulan Mulud atau memperingati hari kelahiran Nabi Besar Muhammad Rosulullah SAW, dan gamelan diletakan diserambi masjid agar para penonton atau pengunjung mau masuk masjid untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, sehingga hidup didunai ini mempunyai pegangan , tujuan dan makna. 

5. Kesenian Wayang 

Sunan Kalijaga dalam mengembangkan kesenian wayang amat berjasa, karena telah berhasil menciptakan kreasi baru, yakni dengan menciptakan wayng dari kulit binatang dengan segala perangkat gamelan. Bentuk wayang yang semula bergambar manusia, dan gamabr tersebut menurut ajaran Islam hukumnya haram. Maka, Sunan kalijaga merubahnya, yaitu dibuat dengan cara mirip karikatur, digambar dan diukir pada kulit binatang, dan satu lukisan untuk satu tokoh wayang.


Baca Juga: Penonton Seni Tradisi Kian Memprihatinkan di Kalangan Generasi Muda 


Wayang ciptaan Sunan Kalijaga yang dibuat bersama Sunan Bonang dan Sunan Giri adalah jenis wayang punokawan, yang berjumlah 4, yaitu Semar, Gareng, Petruk, Bagong. Kata semar berasal dari kata mismar (arab) artinya paku atau tetap, sebagai lambang ibadat atau ketetapan pada pedoman hidup, maka semar juga bernama Ismaya (Asma-ku). 

Nama Nolo Gareng berasal dari nala Khoirun yang artinya menerima kebaikan, maksudnya agar manusia dalam hidup ini selalu berbuat baik, mau menolong dan peduli terhadap sesama. Kata Petruk berasal dari fatruk yang artinya meninggalkan yang buruk, dengan kata lain mau meninggalkan dan mencegah segala perbuatan yang merugikan diri sendiri dan orang lain. 

Kata Bagong berasal dari kata Baghoo yang artinya pertentangan antara fisik dan rasa, baik dan buruk. Maka, pentingnya intropeksi, sikap hati-hati, cermat, cerdas dan tangkas dalam menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi. 

Perlengkapan Wayang Ciptaan Sunan kalijaga

Berbagai perlengkapan seni wayang hasil ciptaan Sunan Kalijaga adalah Layer atau kelir, sebagai lambang langit dan alam semesta, Gedebog atau batang pisang sebagai bumi, Balencong atau lampu sebagai matahari, sedangkan dalang adalah orang yang memberi petuah atau nasihat yang merupakan perlambangan cara Tuhan mengatur makhluknya. 

Sunan Kalijaga dalam berdakwah juga dnegan cara mendalang atau menjadi dalang, beliau amat menikmati dan menarik penonton sehingga amat terkenal di berbagai daerah. Beliau apabila mendalang selalu memakai nama samaran dan namanya berbeda-beda, misalnya ketika mendalang di Jawa barat (Daerah Pajajaran) dienal Ki Sido Brangti, apabila mendalang di tegal menggunakan nama Ki Dalang Bengkok, dan apabila mendalang di daerah Purbalingga dikenal dengan nama Ki Dalang kumendung. 

Sunan Kalijaga dalam mendalang tidak selamanya meminta upah yang berupa uang, kadangkala keluarga penanggap wayang agar membayar dengan membaca kalimat Syahadat, dengan tujuan biar masuk Islam. 

Cerita atau lakon wayang karya para walisongo yang bernafaskan islam adalah cerita Dewa Ruci, Jimat kalimasada, Petruk dadi ratu, Mustakaweni, Begawan Ciptaning. Berbagai peninggalan seni tradisi dari beliau tersebut apabila dikaji mengandung nilai filosofi dan keutaman hidup yang amat dalam. 

Untuk itu berbagai nilai-nilai luhur bangsa dan mutiara terpendam tersebut menunggu penggalian, penanganan, dan pengkajian para pecinta budaya Jawa agar lebih dapat bernafas terhadap kehidupan masyarakat dalam membentuk jatidiri bangsa yang berbudaya dan berwibasa, percaya diri serta mandireng pribadi. 

Posting Komentar untuk "Peran Sunan Kalijaga dalam Seni Tradisi"