Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengulik Tari Payung Khas Minangkabau Sumatera Barat

Konten [Tampil]

Jika kita bicara mengenai seni tari tradisional di Indonesia, tentu tidak ada habisnya, salah satunya adalah Tari Payung berasal dari Minang, Sumatera Barat. Telah lama negara ini populer akan kekayaan adat dan budayanya yang unik.

Ada banyak tipe tarian pada tiap wilayah, ada yang mempunyai tipe dari belasan sampai puluhan dan hal itu belum terhitung wilayah yang lain. Benar-benar kaya sekali akan budaya Nusantara ini.

Sesudah Tari Piring, tarian ini jadi kebanggaan ke-2 warga suku Minang dan umumnya jadi media selingan untuk masyarakat sekitar atau warga umum. 

Untuk memperjelasnya, mari kita baca ulasan berikut ini, dimulai dari sejarahnya, makna atau kandungan, sampai properti yang dipakai dalam pertunjukan Tari Payung.

Baca Juga: Sejarah dan Asal-Usul Tari Saman


Sejarah Tari Payung

menari menggunakan payung

Tari Payung sendiri telah ada semenjak jaman penjajahan Belanda yang mempunyai tujuan sebagai media selingan untuk menyongsong hari besar dalam penyelenggaraan acara yang dianggap resmi. Tari Payung berasal dari Sumatera Barat memiliki makna "kasih sayang dan perlindungan kepada sang kekasih", serta termasuk salah satu tarian yang menganut aliran Melayu. 

Pada tahun 1920, seni Tari dengan properti Payung ini cuman ditujukan sebagai gelaran selingan dan penyeling saja. karena memiliki sifat selingan untuk warga, seni tari tradisional suku Minang ini mulai mengalami perubahan yang paling cepat. Persisnya di Tahun 1960, kesenian Tari Payung mulai di lirik dan memperoleh tanggapan positif dari warga yang berperan sebagai pemirsa.

Dari periode ke periode, Tari khas Sumatera Barat ini mulai dikembangkan oleh seorang pelopor seni tari dari Minangkabau sebutan nama"Syofiyani Yusaf" dengan catatan tidak menghilangkan karakter atau watak asli suku Minang, khususnya pada pergerakannya.

Makin ke sini, kesenian Tradisional dari Sumbar ini mulai banyak dikenali oleh masyarakat umum dan menjadi salah satu identitas kesenian tradisional tanah Mianang. 

Saat ini, atraksi Tari Payung bukan hanya dilaksanakan pada acara tertentu saja, sudah disebarluaskan ke berbagai wilayah di Indonesia sebagai bentuk edukasi dalam bidang seni dan budaya.

Baca Juga: Tarian Tradisional Jawa Barat

Jumlah Pemain dan Properti Tari Payung

tari menggunakan payung

Tari Payung biasanya dimainkan oleh sepasang penari sejumlah 3-4 saja, terdiri dari lelaki dan wanita. 

Properti Tari Payung Wanita

Dalam usaha memberi kepuasan untuk pemirsa dan supaya kelihatan menarik, Tarian ini lengkapi dengan properti seperti kebaya yang disebut "pakaian kurung', kain songket pada bagian bawah, rambutnya disanggul dan memakai mahkota untuk penutup kepala yang dengan sebutan "Suntiang"

Properti Tari Payung Pria

Beda hal untuk penari lelaki yang memakai "Teluk Belanga" yang berupa Pakaian lengan panjang dan di bagian kerah atau rib disebut "cekak musang", lalu pada bawahannya tertutup dengan kain yang berwarna sama dengan sisi atasannya, selanjutnya pada penutup kepala umunya memakai peci atau kopyah.

Baca Juga: Tarian Daerah Jawa Timur dan Gambarnya

Fungsi Tari Payung

tari payung hitam putih

Berdasarkan catatan yang beradar, Fungsi Awal Tari Payung sebagai pelangkap dalam pergelaran seni teater Toonel. Dalam tiap penampilannya, Tari Payung memiliki momok penting yang berperan sebagai pelengkap. 

Tetapi, karena kesenian tari ini semakin meluas dan populer, sekarang jadi tarian khusus di dalam setiap acara, khususnya di wilayah Sumatera Barat atau di luar Provinsi Sumbar.

Pola Pergerakan Tari Payung

Tari Payung tidak berpedoman skema pergerakan khusus yang mewajibkan beberapa penari wanita dan pria mengikuti jalur pergerakan seperti tari tradisional yang lain. 

Tetapi, hal yang perlu jadi perhatian ialah pergerakan pada selendang wanita dan payung pria harus sesuai dan selaras dengan irama musik yang mengiringinya. Sebagai contoh seperti video di atas.

Alat Musik Pengiring Tari Payung

Dalam tiap pagelaran seni tari, tentu ada alat musik atau bahkan juga ada lagu (syair) sebagai pendampingnya supaya tiap pergerakan mempunyai ketukan yang cocok. Ada empat tipe alat musik tradisional yang dipakai dalam mengiringi Tari Payung yakni:

  1. Gamelan
  2. Rebana
  3. Kendang
  4. Akordeon khas Sumatera Barat.

Tidak terlepas dari itu, didukung juga dengan lagu atau syair yang berjudul Babendi-Bendi Ka Sungai Tanang. Makna yang terdapat di dalam lirik tersebut adalah "bulan madu sepasang suami istri".

Lirik Lagu Babendi-Bendi Ka Sungai Tanang

Babendi Bendi Ka Sungai Tanang

Makna dan Filosofi Tari Payung

tari payung berpasangan

Dalam kesenian Tari Payung menggunakan properti khusus, yakni payung dan selendang. Dalam masalah ini, ke-2 properti itu tidak cuma berperan sebagai pendamping baju saja, tetapi ada makna yang terkandung di dalamnya. Makna khusus pada Tari Payung khas Minangkabau ini melambangkan "kesetiaan dan ikatan kasih sayang yang tergambar pada selendang wanita dan ada sebuah perlindungan kepada wanita yang tercermin pada properti payung".

Secara garis besar, Filosofi pada Tari Payung menceritakan sepasang pacar dalam merajut jalinan harus selalu membuat perlindungan, memberi rasa cinta dan kasih sayang. 

Sudah pasti, ikatan itu harus sejalan dengan ketentuan agama dan adat budaya Suku Minang, Sumatera Barat.

Baca Juga: Tari Klasik Indonesia dan Gambarnya

Posting Komentar untuk "Mengulik Tari Payung Khas Minangkabau Sumatera Barat"